Tampilkan postingan dengan label Mendidik Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mendidik Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Cara menghadapi anak yang suka berbohong

Bila dilihat dari jenisnya, Perilaku berbohong pada anak dapat dibedakan dalam beberapa bentuk yaitu :

Simple reversals of truth
Contoh dalam perilaku ini, anak cenderung untuk mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan tugasnya, tetapi pada kenyataannya tugas tersebut belum dikerjakan.

Fabrications
Dalam perilaku ini dapat dicontohkan, anak menceritakan sesuatu hal yang tidak pernah terjadi, atau anak menceritakan kenyataan yang dilebih-lebihkan.

Wrong accusations
Contoh dalam perilaku ini yaitu anak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya. Anak-anak ini berbohong untuk membela dirinya, menyangkal kesalahan yang dibuatnya. Ada juga yang meniru perilaku orang lain, berbohong agar diterima oleh kelompok teman sebaya, atau bahkan juga untuk membuat dirinya tampil baik di hadapan orang lain.

Tips menghadapi anak yang suka berbohong

Berikut ini adalah beberapa tips untuk menghadapi anak yang suka berbohong yang telah berhasil di himpun oleh redaksi Media wanita online – aurapesona.com.
  1. Ajarkan nilai-nilai moral yang berlaku di lingkungan melalui cerita pendek  yang dapat dengan mudah dipahami dan diingat oleh anak Anda.
  2. Berikan umpan balik tentang dampak perilaku bohong anak Anda   terhadap dirinya dan orang lain.
  3. Jelaskan pada anak Anda tentang bagaimana cara Anda mengetahui dengan pasti ketika Ia berbohong, sehingga anak Anda akan sadar atas perbuatannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.
  4. Cari tahu penyebab kenapa anak Anda berbohong, apakah Ia sedang ingin mendapatkan perhatian orang lain, untuk menghindari rasa malu atau menghindari  hukuman, dan sebagainya agar dapat mencegah munculnya perilaku berbohong anak di kemudian hari.
Semoga apa yang telah kami tulis diatas dapat bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan selaku orang tua dalam mendidik anak.

source:http://aurapesona.com

Rabu, 22 Februari 2012

Penyebab Obesitas Anak dan Cara Mengatasinya

Obesitas atau kegemukan bukan saja melanda orang dewasa. Statistik menunjukkan bahwa di banyak negeri, obesitas juga melanda anak-anak sampai taraf yang memprihatinkan. Kurangnya pengetahuan orang-tua atau pandangan yang mengatakan anak bertubuh gemuk atau gendut adalah anak yang sehat dan menggemaskan dapat memperparah kondisi ini. Mengapa obesitas atau kelebihan berat badan berbahaya? Lalu bagaimana mengatasinya?

Obesitas atau kelebihan berat badan dapat menyebabkan berbagai efek negatif untuk kesehatan. Anak-anak yang masih lugu tentu tidak memahami bahaya ini. Maka, merupakan tanggung jawab orang-tua menjaga agar anak mereka tetap sehat. Orang-tua harus mengetahui apa penyebab obesitas dan bagaimana cara mencegah atau mengatasi masalah obesitas anak.

 Akibat Obesitas

Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat obesitas adalah diabetes, darah tinggi, atau penyakit jantung. Penyakit-penyakit yang dulu dianggap sebagai penyakit usia lanjut dan dewasa, kini dapat dialami pada anak akibat timbunan lemak, kolesterol dan gula yang terdapat dalam tubuh. Gangguan pernapasan atau asma berisiko lebih besar dialami anak yang mengalami obesitas.

Selain itu, anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Belum lagi efek psikologis yang dialami anak, misalnya ejekan dari teman-teman sekelas pada anak-anak yang telah bersekolah.

Penyebab Obesitas

Beberapa penyebab obesitas pada anak adalah:

Faktor genetik
Merupakan faktor keturunan dari orang-tua yang sulit dihindari. Bila ayah atau ibu memiliki kelebihan berat badan,hal ini dapat diturunkan pada anak.

Makanan cepat saji dan makanan ringan dalam kemasan
Maraknya restoran cepat saji merupakan salah satu faktor penyebab. Anak-anak sebagian besar menyukai  makanan cepat saji atau fast food bahkan banyak anak yang akan makan dengan lahap dan menambah porsi bila  makan makanan cepat saji. Padahal makanan seperti ini umumnya mengandung lemak dan gula yang tinggi yang   menyebabkan obesitas. Orang-tua yang sibuk sering menggunakan makanan cepat saji yang praktis dihidangkan  untuk diberikan pada anak mereka, walaupun kandungan gizinya buruk untuk anak. Makanan cepat saji meski  rasanya nikmat namun tidak memiliki kandungan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Itu sebabnya        makanan cepat saji sering disebut dengan istilah junk food atau makanan sampah. Selain itu, kesukaan anak-anak pada makanan ringan dalam kemasan atau makanan manis menjadi hal yang patut diperhatikan.

Minuman ringan
Sama seperti makanan cepat saji, minuman ringan (soft drink) terbukti memiliki kandungan gula yang tinggi  sehingga berat badan akan cepat bertambah bila mengkonsumsi minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan  menjadikan anak-anak sangat menggemari minuman ini.
  
Kurangnya aktivitas fisik
Masa anak-anak identik dengan masa bermain. Dulu, permainan anak umumnya adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat atau gerakan lainnya. Tetapi, hal itu telah tergantikan dengan game elektronik, komputer, Internet, atau televisi yang cukup dilakukan dengan hanya duduk di depannya tanpa harus  bergerak. Hal inilah yang menyebabkan anak kurang melakukan gerak badan sehingga menyebabkan kelebihan berat badan.


Solusi Obesitas

Untuk Anda yang memiliki anak dengan kelebihan berat badan atau obesitas, hendaknya tidak memaksakan diet ketat untuk anak karena hal ini dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatannya. Sebaliknya untuk mengatasi obesitas anak atau mencegah anak Anda agar tidak mengalami obesitas, langkah-langkah yang dapat Anda lakukan antara lain sebagai berikut.

Perhatikan makanan yang akan diberikan untuk anak
Kurangi mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food, makanan ringan dalam kemasan, minuman ringan, cemilan manis atau makanan dengan kandungan lemak tinggi. Sebaliknya, sajikan daging dan sayuran segar. Perbanyak konsumsi buah dan susu yang baik untuk pertumbuhan anak. Berikan porsi yang sesuai dan jangan terlalu berlebihan.

Berikan sarapan dan bekal untuk anak
Sarapan merupakan awal baik untuk anak saat memulai harinya. Ini diperlukan agar anak dapat kuat saat beraktivitas di sekolah dan mencegah makan berlebihan setelahnya. Dengan membawa makanan dari rumah, orang-tua dapat mengontrol gizi anak dan menghindari agar anak tidak perlu jajan di luar.

Perbaiki teknik mengolah makanan
Jangan terlalu banyak menggoreng makanan agar tidak terlalu banyak lemak yang dikonsumsi. Anda dapat mencoba untuk mengukus, merebus atau memanggang makanan agar makanan lebih sehat.

Tetapkan aturan makan
Biasakan agar anak Anda makan di meja makan bukan di depan televisi atau komputer. Banyak orang akan tidak menyadari berapa banyak makanan yang sudah disantapnya bila dia makan sambil menikmati tayangan televisi atau di depan komputer.

Batasi kegiatan menonton televisi, video game atau penggunaan komputer
Melakukan kegiatan tersebut akan membuat anak Anda malas bergerak, maka diperlukan aturan tegas tentang berapa lama kegiatan ini boleh dilakukan. Selanjutnya, Anda dapat membantu anak Anda agar menyenangi hiburan lain seperti bersepeda, bermain bola atau sekedar lompat tali.

Lakukan kegiatan yang memerlukan aktivitas fisik
Anda dan anak-anak dapat merencanakan untuk melakukan kegiatan olahraga bersama seperti jogging, lari pagi, berenang, badminton atau olahraga lainnya. Atau rencanakan liburan bersama di pantai, kebun binatang atau taman sehingga Anda dan anak dapat lebih banyak berjalan kaki.

Anak yang gemuk memang lucu dan menggemaskan. Namun jagalah putra dan putri kesayangan kita agar mereka bertumbuh dengan sehat dan juga memiliki pola hidup dan pola makan yang sehat. Orang-tua bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Ingatlah bahwa obesitas atau kegemukan bukanlah hal yang bagus bagi seorang anak.

source: http://kumpulan.info

Selasa, 21 Februari 2012

Remaja Putri dan Permasalahannya

Menjadi seorang remaja di jaman sekarang ini bisa dipandang merupakan hal yang menyenangkan sekaligus tugas yang berat. Saat ini remaja selalu dituntut untuk menjadi anak yang baik, rajin belajar, ditambah seabrek tugas yang harus dikerjakan setiap hari. Tapi di sisi lain juga harus bisa menjadi anak yang gaul, mengikuti trend dan mode saat ini agar bisa diterima oleh teman-teman. Tapi apakah yakin saat ini rekan-rekan remaja sudah pintar untuk membagi perhatian agar kedua hal itu bisa tercapai dengan baik.

Berbicara tentang gaul dan trend di kalangan anak muda sekarang, tentunya ada hal wajib yang harus dipunya remaja agar bisa tetap gaul dan masa remaja ini bisa tetap asyik dan indah untuk dijalani. Bekal yang wajib rekan-rekan remaja miliki saat ini adalah bekal pengetahuan, salah satu pengetahuan yang mutlak diketahui adalah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Tidak sedikit lho, remaja yang belum memahami tentang kesehatan reproduksi sehingga akhirnya banyak yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Banyak remaja yang karena ketidakpahaman, kurang mampu mengontrol dorongan seksual dan keinginan untuk bereksperimen melakukan hubungan seksual sebelum waktunya. Selain akibatnya adalah kehamilan di usia sangat muda, maka tidak tertutup kemungkinan remaja akan mudah dihinggapi infeksi menular seksual termasuk AIDS. Kagak mau dong, kalo di umur belia harus repot mengurus anak sedangkan teman-teman kita masih asyik menikmati masa remaja.

Nah, sekarang Kita akan membahas secara singkat tentang kesehatan reproduksi remaja, khususnya remaja putri beserta permasalahan yang menyertainya. Jadi tolong disimak baik-baik ya…!

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dgn kesehatan reproduksi?
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, maupun sosial yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari alat-alat reproduksi serta fungsinya.

Lalu apa saja yang termasuk organ reproduksi wanita ?
Organ genitalia eksterna :
  • Labia mayora
  • Labia minora
  • Vulva
  • Klitoris
  • Lubang vagina

Organ genitalia interna :
  • Indung telur (ovarium), fungsinya menghasilkan sel telur, hormon (estrogen, progesteron, dll)
  • Saluran telur (tuba falopii), fungsinya tempat berjalannya sel telur setelah keluar dari ovarium (proses ovulasi) dan tempat pembuahan (konsepsi) atau bertemunya sel telur dan sperma
  • Rahim (uterus), berupa rongga yang terlindungi oleh beberapa lapisan otot dan selaput lendir, fungsinya tempat berkembangnya janin dan sumber perdarahan saat Menstruasi
  • Liang kemaluan (vagina), digunakan untuk sanggama dan jalan lahir bayi

Kesehatan Reproduksi Remaja Putri

Apa itu Masa Pubertas Remaja ?

Adalah masa di mana tubuh sedang mengalami perubahan besar-besaran, dari struktur tubuh anak-anak menjadi struktur tubuh orang dewasa. Ditandai dengan kematangan organ-organ reproduksi, termasuk pertumbuhan seks sekunder. Pada masa ini remaja juga mengalami pertumbuhan fisik yang cepat.

Awal dimulainya masa puber pada laki-laki antara umur 13 atau 14 tahun, lebih lambat dari perempuan yang sudah mulai saat umur 11 atau 12 tahun, dan akan berakhir sekitar umur 17 – 18 tahun. Tapi ini tidak mutlak, karena kondisi tubuh masing-masing individu berbeda-beda. Jadi ada remaja laki-laki atau perempuan yang mengalami masa puber lebih cepat atau justru terlambat.

Perubahan fisik apa yang terjadi pada remaja saat pubertas ?Memasuki usia remaja, beberapa jenis hormon atau zat dalam tubuh, terutama hormon estrogen dan progesteron, mulai berperan aktif sehingga pada remaja mulai tumbuh payudara, panggul mulai melebar dan membesar dan akan mengalami menstruasi atau haid.

Di samping itu akan mulai tumbuh rambut-rambut halus di sekitar ketiak dan vagina/kemaluan. Beberapa dari remaja perempuan mengalami tumbuhnya jerawat pada wajah. Dan perubahan lainnya seperti :
  • Kulit dan rambut mulai berminyak
  • Keringat bertambah banyak
  • Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang
  • Tangan dan kaki bertambah besar
  • Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar
  • Pantat berkembang lebih besar
  • Indung telur mulai membesar
  • Vagina mulai mengeluarkan cairan

Masa pubertas Remaja Putri sangat identik dengan menstruasi. Sebenarnya bagaimanakah proses terjadinya menstruasi ?

Menstruasi merupakan proses pelepasan darah dan cairan encer dari uterus melalui vagina. Dimulai saat pubertas dan berhenti sesaat waktu hamil atau menyusui dan berakhir saat menopause. Menstruasi adalah siklus dari serangkaian perubahan yang terjadi berulang-ulang pada organ reproduksi perempuan. Perubahan-perubahan ini terjadi hanya ketika perempuan tidak hamil atau tidak sedang menyusui. Perubahan ini terjadi karena sel telur menjadi matang, dan karena tidak dibuahi, dilepaskan oleh indung telur (disebut juga ovulasi). Perubahan juga mencakup penebalan dinding rahim (uterus), kemudian menipis dan rontok, keluar melalui saluran rahim. Pelepasan telur oleh indung telur ini terjadi secara periodik.

Bagian dari siklus haid adalah masa subur, yaitu waktu telur dilepaskan. Terjadi 14±2 hari sebelum haid. Pada waktu inilah perempuan akan mudah hamil bila melakukan hubungan seksual. Semakin dewasa biasanya siklus menstruasi menjadi lebih teratur, walaupun tetap bisa maju atau mundur karena faktor stress atau kelelahan.

Berapa lama siklus menstruasi yang normal ?

Pada kebanyakan perempuan, siklus haid berkisar 28 hari. Namun demikian, siklus yang berlangsung 21-35 hari (28±7 hari) sekali masih dianggap normal.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang remaja ?

Buat semua remaja, Pram gak pernah bosan-bosannya buat ngingetin agar selalu berperilaku sehat. Itu artinya remaja harus dapat menolak dengan tegas ajakan untuk melakukan hubungan seks sebelum nikah. Karena hubungan seks yang terbaik, dan aman adalah yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah. Sedangkan pernikahan itu sendiri membutuhkan banyak persiapan. Tidak saja membutuhkan kematangan pribadi, tetapi juga kesiapan ekonomi, dan perencanaan keluarga yang benar-benar matang.

Jadi saran saya adalah lebih baik menikmati masa remaja yang indah ini dengan kegiatan yang positif, jangan lupa jauhi narkoba dan hindari seks bebas, karena itu akan menghancurkan masa depan dan yang pasti tetaplah berusaha untuk menggapai cita-citamu setinggi langit.

“No Drugs, No Free Sex And
Explore Your
Talent”

PERKEMBANGAN reproduksi remaja terkait erat dengan perkembangan seksualnya. Sebagian remaja tidak mengalami masalah dalam perkembangan seksualnya, tapi tidak sedikit dari mereka karena proses tersebut kehidupan mereka di hari tua menjadi kurang menguntungkan.Saat ini sebagian besar kaum remaja lebih berani mengambil risiko yang mengancam kesehatan reproduksinya, tetapi mereka tidak mengetahui banyak informasi mengenai apa itu kesehatan reproduksi.

Minimnya informasi kesehatan reproduksi remaja kerap menjadi salah satu persoalan yang membuat mereka salah dalam mengambil keputusan. Informasi kesehatan reproduksi (kespro) pada remaja harus ditingkatkan, agar kelompok kaum muda yang sedang tumbuh berkembang ini dapat memperoleh sumber informasi yang benar. Karenanya, semua remaja memerlukan dukungan dan perawatan selama masa transisi dari remaja menuju dewasa.

Isu Pokok Kesehatan Reproduksi Remaja
  1. Perkembangan seksual dan seksualitas (termasuk pubertas).
  2. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
  3. Kehamilan yang belum diharapkan dan kehamilan berisiko tinggi (kehamilan tak sehat).

Pendidikan Kespro

Kespro bagi remaja hingga kini masih sulit masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Padahal, masalah seks di kalangan remaja saat ini telah menjadi problem yang sangat serius. ”Family life education atau pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja memang penting untuk pendidikan remaja.

Permasalahan Kesehatan Reproduksi

Minimnya informasi kesehatan reproduksi remaja kerap terjadi penyalahgunaan fungsi seksual. Hanya mengejar kenikmatan sesaat, tidak sedikit dari mereka berani melakukan hubungan seksual. Tidak heran jika kini banyak permasalahan yang datang menyertainya, termasuk semakin beragamnya penyakit menular seksual (PMS) dan aborsi.

Sumber Masalah Kesehatan Reproduksi
  1. Seks dengan sembarang orang
  2. Seks tanpa alat pengaman (kondom)
  3. Melakukan hubungan seksual saat perempuan sedang haid
  4. Seks tidak normal, misalnya seks anal (melalui dubur)
  5. Oral seks dengan penderita gonore, menyebabkan faringitis gonore (gonore pada kerongkongan) 
  6. Seks pada usia terlalu muda, bisa mengakibatkan kanker serviks
  7. Perilaku hidup tidak sehat dapat mendatangkan penyakit (tekanan darah tinggi, jantung koroner,  diabetes melitus) yang dapat memicu disfungsi ereksi (DE)        
  8. Kehidupan seks menimbulkan trauma psikologis juga faktor pemicu DEBeberapa Penyakit Menular Seksual

1. Gonore (Kencing Nanah)gonorrhea-putri
Tanda-tanda: Nyeri, bengkak, merah, bernanah
Pada laki-laki: Sakit pada saat kencing, keluar nanah kental kuning kehijauan, ujung penis merah  dan bengkak.
Pada perempuan: 60% tidak menunjukkan gejala, misalnya keputihan kental kekuningan dan sakit saat kencing.

Akibat : Pada laki-laki dan perempuan bisa menyebabkan kemandulan.
Akibat : Pada perempuan menyebabkan radang panggul, dan dapat diturunkan pada bayi melalui infeksi pada mata, yang dapat menyebabkan kebutaan

2. Sifilis (Raja Singa) Syphilis Female
Tanda-tanda : pusing, nyeri tulang seperti flu, bercak kemerahan ada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks.- Akibat: Setelah 5-10 tahun, sifilis akan menyerang susunan saraf otak, pembuluh darah, dan jantung. Pada perempuan hamil sifilis dapat ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa, dan keterbelakangan mental.

3. Herpes Genital
Tanda-tanda: Bintil-bintil berair (berkelompok seperti anggur) yang sangat nyeri pada sekitar alat kelamin. Kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering mengerak, lalu hilang sendiri. Gejala kambuh lagi seperti di atas namun tidak senyeri tahap awal bila ada faktor pencetus (stres, haid, minuman/makanan beralkohol) dan biasanya menetap hilang timbul seumur hidup.- Akibat: Pada perempuan, sering kali menjadi kanker mulut rahim beberapa tahun kemudian.

4. Klamidia
Tanda-tanda: Pada perempuan keluarnya cairan dari alat kelamin atau ‘keputihan encer’ berwarna putih kekuningan, rasa nyeri di rongga panggul, perdarahan setelah hubungan seksual. Pada laki-laki rasa nyeri saat kencing keluar cairan bening dari saluran kencing bila ada infeksi lebih lanjut, cairan semakin sering keluar dan bercampur darah.- Akibat: cacatnya saluran telur dan kemandulan, radang saluran kencing, robeknya saluran ketuban sehingga terjadi kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur). Pada laki-laki akibatnya adalah rusaknya saluran air mani dan mengakibatkan kemandulan, serta radang saluran kencing.

5. HIV/AIDS
Tanda-tanda: 3-4 tahun penderita tidak memperlihatkan gejala yang khas. Sesudahnya, tahun ke-5 atau 6 mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut, dan terjadi pembengkakan di daerah kelenjar getah bening.-Akibat: Penurunan daya tahan tubuh secara terus-menerus, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Bahaya Aborsi bagi Remaja

Aborsi yang dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu, menggunakan obat-obatan ataupun tindakan medik, dinilai berbahaya. Apalagi, jika aborsi terjadi pada remaja putri berusia 15-19 tahun. Usia 19 tahun tidak menjamin kesehatan secara fisik, mental, maupun sosial untuk proses reproduksi. Karena itu, aborsi yang disengaja pada remaja putri lebih berisiko dibanding perbuatan sama yang dilakukan perempuan berusia lebih tua.Kehamilan pada remaja sering berakhir dengan aborsi, karena memang bayi yang dikandung itu tak diinginkan kehadirannya. Komplikasi aborsi berupa robeknya rahim dan kelainan pada pembekuan darah, dimungkinkan terjadi saat remaja putri mendapatkannya tidak aman karena sarana pelayanannya ilegal. Komplikasi yang muncul bukan saja dialami ibu muda, juga menimpa janin atau bayinya, sehingga meningkatkan angka penderita maupun kematian pada keduanya.

Tips Menjaga Kesehatan Reproduksi
  1. Jika belum menikah, jangan melakukan hubungan seksual dahulu
  2. Setia dengan satu pasangan seksual yang sah.
  3. Jangan tertipu dengan penampilan. Orang yang terlihat bersih dan resik belum tentu bebas PMS.
  4. Gunakan kondom, terutama jika berhubungan dengan kelompok berisiko tinggi, misalnya pekerja seks komersial.
  5. Selalu bersihkan alat kelamin sebelum dan sesudah berhubungan seksual.
  6. Jika pasangan seks terkena PMS, keduanya harus menjalani pengobatan.

source :http://ayurai.wordpress.com

Selasa, 07 Februari 2012

Bila Ananda kecanduan games…

Bunda pernah menghadiahkan Play Station, Game Boy, X –Box dan sejenisnya untuk ananda tercinta? Kalau pernah, tentulah maksudnya sebagai alternatif bagi ananda bermain di rumah jika bermain di luar rumah tidak memungkinkan. Namun jika di kemudian hari, Bunda melihat ananda lebih asyik bermain sendiri dengan peralatan gamesnya dari pada bermain dengan teman-temannya dan terlihat mulai lupa waktu, maka itu adalah gejala bahwa ananda mulai kecanduan games.
Kecanduan games hanya istilah untuk mendeskripsikan anak yang gemar bermain games baik itu dari peralatan games maupun online games yang diakses melalui internet sehingga mengakibatkan anak lupa waktu dalam bermain dan mengabaikan aktivitas sehari-hari selain permainannya.


Kecanduan games pada anak dampaknya sangat buruk. Anak cenderung akan melupakan lingkungan di sekitarnya karena dengan bermain sendiri pun sudah mendapatkan kesenangan, akibatnya anak akan berpotensi menjadi posesif dan sulit berbagi dengan orang lain.

Secara fisik, sikap tubuh yang monoton dalam jangka waktu yang lama akan mengganggu perkembangan tubuh dan motorik pada anak. Anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas. Games tertentu bahkan  ada yang menggunakan sinar yang dapat membahayakan mata, apalagi jika terpapar dalam jangka waktu yang lama. Ada pula games yang banyak mengandung unsur kekerasan dan menampilkan gambar-gambar yang kurang layak bagi anak-anak. Yang tak kurang membahayakan, kecanduan games dapat menyebabkan anak kehilangan konsentrasi dalam belajar dan enggan pergi ke sekolah sehingga anak dapat ketinggalan pelajaran.

Jadi, jangan tunggu sampai ananda benar-benar terjangkit kecanduan games, segera lakukan pendekatan agar ananda mengerti batasan-batasan dalam bermain. Tips berikut  ini dapat membantu Bunda dalam menemukan solusinya:

1. Lakukan pendekatan secara persuasif

Bersikaplah sabar. Kemarahan hanya akan membuat ananda semakin frustasi dan akhirnya akan menimbulkan sikap perlawanan apabila tidak dalam pengawasan Bunda. Ajaklah ananda berdiskusi. Berikan penjelasan mengapa Bunda membatasi ananda bermain, sampaikan efek negatif kecanduan games dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh ananda. Jangan lupa beri kesempatan ananda mengemukakan pendapatnya.

2. Tetapkan aturan bersama

Bila ananda sudah mengerti akibat buruk yang dapat disebabkan karena kecanduan bermain games, maka selanjutnya Bunda dan ananda dapat membuat aturan yang harus disepakati bersama. Aturan ini antara lain berisi kapan waktu yang diperbolehkan untuk bermain games, berapa lama dan syarat-syarat lain, misalnya ananda baru boleh bermain jika sudah mengerjakan pekerjaan rumah atau di hari libur saja. Perlu juga disepakati jenis games yang bagaimana yang boleh dimainkan. Games yang banyak mengandung unsur kekerasan dan yang menampilkan gambar yang kurang layak bagi ananda seyogyanya tidak diperbolehkan karena tidak memberikan nilai tambah bagi anak.

Sekali lagi, beri kesempatan anak untuk mengemukakan usulannya untuk mendorong anak berani menyampaikan pendapat dan terlebih lagi untuk mendorong anak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan bersama.


3. Tetapkan sanksi

Bila kesepakatan mengenai aturan sudah ditetapkan, selanjutnya Bunda dan ananda juga perlu menetapkan bersama mengenai sanksi apa yang diberikan bila ananda tidak mematuhi  aturan. Ini berguna untuk mendorong ananda menjadi konsisten dan mengerti bahwa kesalahan akan mengandung konsekuensi. Sanksi dapat berupa pengurangan waktu bermain, membantu pekerjaan di rumah atau pun pemotongan uang saku. Bersikaplah konsisten dalam menerapkan sanksi apabila ananda melanggar kesepakatan. Dengan demikian ananda akan lebih menghargai aturan yang telah disepakati.

4. Berikan reward

Bila ada sanksi, tentu ada pula reward. Berikan reward bila ananda sudah menunjukan kedisipinan dalam menerapkan aturan. Bunda dapat memberikan ciuman dan pujian. Jangan segan untuk mengatakan, “Bunda bangga karena Kakak sudah menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum bermain..”  Adanya reward akan mendorong motivasi dan kepercayaan diri ananda.

5. Berikan alternatif aktivitas lainnya

Untuk mengalihkan perhatian ananda dari gamesnya, Bunda dapat memberikan alternatif kegiatan lainnya seperti menyediakan buku-buku cerita yang menarik, peralatan olah raga, permainan edukatif, hewan peliharaan atau dapat pula menawarkan kursus tambahan sesuai dengan kesukaan anak.

6. Luangkan waktu lebih banyak bersama ananda

Selayaknya Bunda harus memahami mengapa ananda sampai lebih suka bermain dengan peralatan games-nya ketimbang melakukan aktivitas lainnya, mungkin salah satunya karena kurangnya waktu dan perhatian kita sebagai orang tua. Bila demikian, maka luangkan waktu Bunda yang berharga lebih banyak lagi untuk ananda tercinta, sempatkan untuk beraktivitas bersama dan bangunlah komunikasi yang baik dengan ananda sehingga ananda merasa nyaman berada bersama orang-orang di sekelilingnya.


Masa tumbuh ananda sangatlah berharga dan tak akan terulang kembali. Tetaplah lindungi ananda tercinta dari risiko yang mengancam dari hal-hal sederhana yang kelihatannya aman dan tidak mengandung bahaya.



source : http://blog.smartbunda.net

Sabtu, 28 Januari 2012

Ketika anak berbohong


Anda sudah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi agar si kecil tidak berbohong. Tapi kali ini Anda curiga ia berbohong. Anda betul-betul penasaran dan berusaha membuatnya mengaku. Tapi semakin Anda berusaha, ia justru semakin teguh mempertahankan kebohongannya. Nah, jangan-jangan itu bukan karena ia pembohong, tapi cara Anda merespon yang kurang tepat. Anda bisa menyimak contoh berikut.
  • Temannya punya anak anjing yang sangat lucu. Si kecil tahu-tahu bilang, “Aku juga punya anak anjing lucu banget di rumah.” Padahal, ia sama sekali tak punya binatang peliharaan. Si kecil melakukan ini mungkin karena betul-betul ingin anak anjing juga, sehingga ia berfantasi dan lupa realita sebenarnya, atau ia ingin dianggap hebat oleh temannya. Jangan katakan, “Sayang, kamu kan nggak punya anak anjing?” Tapi katakan saja, “Sepertinya kamu betul-betul ingin anak anjing seperti punya Diana, ya? Coba cerita deh, anak anjing seperti apa yang kamu inginkan?” Jangan terlalu lama meneruskan pembicaraan tentang anak anjing, usahakan ganti topik segera.
  • Si kecil minta ijin untuk menggambar di buku gambarnya, namun kemudian Anda menemukan beberapa coretan baru di dinding. Begitu ketahuan, ia langsung menceritakan betapa nakal adiknya – yang saat itu sedang tidur nyenyak. Besar kemungkinan sebetulnya ia cemburu dengan adiknya. Daripada langsung berteriak, “Kamu si tukang bohong! Bilang saja kamu yang melakukan!” lebih baik katakan saja apa mau Anda, “Tidak ada yang boleh mencoret dinding, kalau ada yang mau mencoret, kamu bisa tolong Mama untuk mengingatkan dia.”
  • Ia mendapat nilai ulangan jelek. Alih-alih mengaku, ia malah menyembunyikan kertasnya di tas dan baru Anda ketahui ketika mengecek apakah buku pelajaran besok sudah dibawa semua. Sepertinya ia takut dimarahi dan dihukum oleh Anda. Kalau Anda biarkan kebohongan ini terjadi terus, ia tidak akan belajar menerima dan mengatasi keadaannya. Jadi daripada langsung memarahi, “Kamu sengaja ya menyembunyikan nilai jelekmu, ketahuan tau! Makanya, belajar yang bener!” lebih baik Anda berikan penerimaan dan beritahu jalan keluarnya, “Sayang, Mama menemukan hasil ulangan kamu. Sepertinya kamu kesulitan ya mengerjakan ulangan ini. Kamu mau mama bantu belajar?”
  • Ketika ketahuan bohong lagi, jangan langsung katakan, “Tuh kan, apa Mama bilang, kamu sukanya bohong, kan.” Justru Anda perlu menunjukkan ia bisa bicara jujur, “Sayang, kamu ingat nggak, ketika kamu …. Saat itu kamu jujur, dan Mama bangga sekali sama kamu.
  •  Jika Anda tidak yakin apakah anak berbohong atau tidak, jangan langsung menuduhnya, “Kamu lagi bohong ya? Coba bilang yang jujur.” Katakan saja dengan sabar, “Mama agak bingung dengan ceritamu. Coba duduk sebelah Mama, Mama ingin dengar lagi bagaimana kejadiannya.” Jika dia konsisten, kemungkinan dia tidak bohong.
 Menurut Marilyn LaCourt, terapis keluarga, memergoki anak berbohong bukanlah cara yang paling efektif untuk menghentikan mereka dari kebohongan. Elizabeth Pantley, penulis buku Perfect Parenting and Kid Cooperation menambahkan, mengajar anak bicara jujur memang butuh banyak waktu dan kesabaran. Jadi, kalau besok atau minggu depan atau bulan depan Anda menemui situasi ini lagi, yah, begitulah anak-anak.


 (parenting.co.id)

4 Kalimat 'Haram' Diucapkan Depan Anak


Saat kesal, seringkali Mama melontarkan kalimat yang semestinya tidak diucapkan di depan anak. Tidak ingat, ucapan apa saja itu? Ini empat kalimat yang pantang terucap di depan anak.

1. "Jangan ganggu mama"
Anak-anak seringkali tidak bisa membiarkan mamanya tidak memperhatikan mereka. Akibatnya, saat mama perlu menyelesaikan banyak hal, si kecil bisa mengganggu mama. Tanpa sadar Anda melontarkan kalimat ini, "Jangan ganggu Mama!”

Jika terbiasa mendengar kalimat ini, mereka dapat merasa ditolak dan belajar benar-benar tidak ‘menyentuh’ Anda lagi. Parahnya, perasaan ini bisa mempengaruhi perkembangannya. Ia menjadi malas berbagi cerita dengan Anda. Ia bisa berpikir, "Mama kan, tidak mau diganggu.

Lantas kalimat apa yang sebaiknya diucapkan  Anda mungkin bisa mencoba untuk memberi peringatan kepada anak-anak sebelum mulai bekerja, “Baik anak-anak, sekarang mama perlu waktu sendiri. Kalau mama tidak diganggu, akan lebih cepat selesai dan kita lebih cepat main bersama.”

 2. "Kamu itu…"
Tanpa sadar orang dewasa sering memberi label, termasuk orangtua kepada anaknya. Seperti, Calista si pintar, Tasya si tembem, Lia si pemalu, Rico si nakal, dan sebagainya. Anak-anak percaya apapun yang mereka dengar tanpa bertanya lagi.

Label negatif bisa mereka yakini dan akhirnya menjadi kenyataan. Lia ‘si pemalu’ butuh waktu lama hingga ia dewasa untuk menghapus keyakinan bahwa dirinya pemalu. Namun sebaliknya, label netral ataupun positif juga menjadikan anak dan lingkungan sekitar memiliki ekspektasi tertentu terhadap anak tersebut. Bisa jadi label ‘pintar’ membuat Calista merasa tertekan ketika tidak menjadi rangking 1 di kelasnya.

Cara terbaik adalah mencoba menghindari menggunakan kata sifat saat menghadapi ulah anak-anak. Misalnya, “Rico ‘kan tahu kalau bermain bersama tidak boleh memukul, nanti temannya sedih dan tidak mau main sama kamu lagi.”

 3."Jangan Nangis!"
Anak-anak mudah kecewa dan seringkali tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya, dan semuanya bisa berujung dengan tangisan. Ketika Mama melarangnya menangis tidak berarti mereka akan merasa lebih baik, tapi juga membuat mereka tidak memahami emosi dengan benar. Pengertian mereka sedih, kecewa, takut bukanlah hal baik.

Daripada melarangnya, Anda bisa bicara kepadanya dengan memastikan bahwa Anda mengerti perasaannya. “Kamu pasti sedih ketika mainanmu rusak” atau “Suara petir memang menakutkan. Kamu bisa tutup telinga dan peluk Mama. Tidak lama lagi suaranya akan pergi ‘kok.”

 4. "Kayak dia, dong."
Anda pikir dengan membandingkan, anak akan terpacu dan berubah. Sebaliknya, memaksakan anak melakukan hal yang ia belum siap (atau tidak disukai) seringkali menjadi bumerang. Selain anak justru cenderung melawan permintaan Anda, anak bisa juga merasa rendah diri hingga kehilangan jati dirinya,  karena dia merasa dirinya tidak sesuai harapan Anda.

Padahal Anda bermaksud baik yaitu mengusahakan anak Anda memenuhi tahapan perkembangan. Tidak ada individu yang sama, begitupun seorang anak. Mereka unik dan memiliki waktu masing-masing untuk mencapai tahapan perkembangannya.

Bisa saja ia lambat di satu bidang namun lebih cepat di bidang lain. Terkadang bisa lambat di semua hal, namun akhirnya mencapai beberapa tahapan bersamaan. Daripada membandingkan, berilah dia semangat dan penghargaan ketika berhasil melakukan sesuatu. (Fina Khairaty/Foto: dok. Feminagroup)

(parenting.co.id)


Tips Hadapi Perseteruan Kakak Adik


Entah mengapa pertengkaran kakak-adik seolah tak terhindarkan dan sering sekali terjadi. Ada-ada saja yang mereka perebutkan, atau menjadi bahan perbantahan.  Mulai dari berebut mainan, cari perhatian mama sampai iri soal sepatu baru si kakak (padahal, sebulan lalu, si adik baru saja dibelikan sepatu!). Mengapa mereka seperti itu?

Menurut Betsy Brown Braun, penulis 'Just Tell Me What to Say', anak bertengkar karena mereka bisa, dan ingin melakukannya! Pantaslah, kalau segala hal bisa memicu pertengkaran mereka, mulai dari soal kepemilikan, ‘daerah kekuasaan’, atau bahkan sekadar karena kebiasaan. Wah, makin dekat jarak usia mereka, biasanya makin sering pula mereka bertengkar, karena prioritas kebutuhan mereka relatif sama. Tapi, tak perlu khawatir, Ma. Selain itu, mereka juga berbagi kebahagiaan, tawa, serta saat-saat yang menyenangkan, kok.

Satu hal yang tak boleh Anda biarkan adalah bila anak sampai saling memukul atau melukai yang lain. Anak perlu merasa benar-benar aman dan tidak merasa terintimidasi, apalagi oleh saudaranya sendiri.

 Berikut cara meminimalkan pertengkaran mereka:

- Gunakan ‘timer’, agar mereka saling bergantian saat bermain. Bagi anak, penunjuk waktu terasa cukup adil, karena memastikan mereka akan mendapat giliran. Lagipula, Anda tak perlu repot jadi wasit, kan?

- Jangan ikut campur. Jika kakak dan adik sudah berusia di atas tiga tahun, ‘biarkan’ saja mereka bertengkar. Mungkin saja, salah satu akan sampai berteriak. Namun, tahan diri Anda untuk buru-buru datang. Setelah satu atau dua menit berlalu, baru katakan, “Mama harap semua baik-baik saja, ya.…”

Pisahkan sementara. Bila pertengkaran cenderung meningkat, pisahkan mereka. Mintalah masing-masing kembali ke kamar, atau minta kakak pergi ke kamarnya dan adik ke ruang tamu. Meski baru saja bertengkar, Anda akan terheran-heran, karena dengan cepat mereka akan rukun kembali.


(parenting.co.id)

Jangan Biarkan Anak-Anak Dewasa Sebelum Waktunya!

Saat ini banyak sekali acara tv yang menayangkan tontonan yang sebenarnya lebih tepat untuk orang dewasa. Namun pada kenyataannya, tontonan tersebut juga ditonton oleh anak-anak. 

Tidak hanya acara tv, internet dan lagu-lagu yang diputar baik di radio atau TV juga bukanlah tepat untuk dilihat dan didengar anak anak. Hal-hal ini bisa menyebabkan anak menjadi dewasa sebelum waktunya.

Lagu cinta misalnya merupakan lagu untuk orang dewasa. Banyak lagu cinta zaman sekarang yang berkesan cengeng, putus asa, dan terkadang mengandung kata-kata seperti “selingkuh”, “cinta dimadu”, dan sebagainya. Lirik dalam lagu cinta saat ini bisa membuat anak anak mengenal cinta pada lawan jenis sebelum waktunya.

Tidak dipungkiri bahwa lagu cinta berdampak pada aspek psikologis anak, membuatnya lebih cepat dewasa. Hal ini bukanlah hal yang baik karena seharusnya anak berproses dengan normal.

Saat ini, acara tv juga jarang yang mendidik. Acara tv lebih cenderung menayangkan kisah percintaan yang sarat dengan pertengkaran, konflik, dan balas dendam. Tidak hanya itu acara tv juga banyak yang mengandung kekerasan. 

Anak anak sebaiknya dihindarkan dari tontonan yang seperti itu. Anak anak cenderung polos dan cepat menangkap apa yang dilihat dan didengarnya. Dengan demikian, anak anak bisa meniru perbuatan seperti di acara tv.

Tak jarang kita melihat, anak anak yang pandai berbicara menirukan orang dewasa padahal tidak pernah diajarkan oleh keluarganya. Oleh sebab itu, pilihlah tontonan yang sesuai, jangan membuat anak menonton acara tv yang kita sukai. Bimbing anak selama menonton dan berikan sedikit pengarahan. Acara tv biasanya memuat symbol yang menerangkan bahwa acara ini tidak cocok  untuk anak - anak.  
 Media internet merupakan media yang bisa diakses secara bebas. Seusia anak anak pun bisa melihat hal-hal dewasa. Orang tua harus bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegah anak lebih terjerumus dalam situs-situs orang dewasa. Berikan software pengaman pada komputer anak dan damping anak jika akan melihat dunia maya.

Kedewasaan sebelum waktunya membuat anak anak tidak siap menghadapi masa-masa sulit nantinya misalnya masa putus cinta, masa ingin mencoba ini dan itu dengan pasangan. Tentunya akan sangat berbahaya jika anak terjebak dalam pergaulan bebas.

Lagu cinta, acara tv seperti sinetron, dan berita-berita memang berpeluang membuat anak dewasa sebelum waktunya. Mereka akan berada pada tahapan hidup yang sebenarnya mereka belum siap dan matang. Dalam ketidakstabilan emosi dan psikologis, anak anak itu bisa melakukan hal-hal yang kurang baik.

Oleh sebab itu, bimbingan dan pendampingan orang tua sangat penting untuk memastikan anak mengalami proses pertumbuhan yang normal. Menjadi dewasa sebelum waktunya sebenarnya telah mencuri saat-saat bahagia seorang anak untuk bermain dan belajar.

sumber: kaskus.us
                                                                                                               

Kamis, 26 Januari 2012

Apakah Saya Ibu yang Baik bagi Anak Saya?

Selama bertahun-tahun saya sering menanyakan hal tersebut pada diri saya. Saya sering merasa bahwa ada saja yang kurang dalam peran saya sebagai seorang ibu.

“Aku selalu membanggakan Mama. Teman-temanku bilang aku bijaksana, dan aku selalu bilang karena aku belajar dari Mamaku bagaimana melihat suatu permasalahan dan cara mengatasinya.”

Ketika anak saya menyatakan hal itu pada saya, hati saya begitu terenyuh dan tersentuh. Selama ini, saya selalu merasa tidak pede akan eksistensi saya sebagai seorang ibu. Saya sering merasa bersalah apabila saya melihat anak saya melakukan sesuatu tidak seperti yang saya harapkan. Saya ingin dia jadi anak yang hebat, sukses, dihormati serta menjadi dirinya yang terbaik.

Anak saya satu, laki-laki. Sekarang usianya delapan belas tahun, dan duduk di tingkat dua sebuah  universitas swasta di Jakarta. Kami tidak terlalu sering berkomunikasi satu sama lainnya. Kami masing-masing sibuk dan sepakat bahwa frekuensi komunikasi kami bukan indikasi dari besar-kecilnya cinta kami satu sama lain. Facebook dan chatting adalah salah satu media komunikasi kami, dan untuk sekarang, itu tampaknya sudah cukup untuk menjembatani jarak tempat tinggal kami yang cukup berjauhan.

Kira-kira tiga minggu yang lalu saya iseng-iseng membuka-buka file-file tulisan anak saya ketika dia masih remaja, dua belas sampai empat belas tahunan, di mana terkadang dia harus mengerjakan pekerjaan sekolah dan mengerjakannya di komputer saya. Sehingga, saya masih mempunyai copy-nya. Saya sangat menikmati tulisan-tulisan anak saya. Tulisannya segar, orisinal, dan sangat imajinatif.

Ketika terakhir bertemu dengannya, saya bilang, “Kamu ini sebetulnya bakat nulisnya hebat, meskipun kamu jarang menulis. Kalau kamu berniat berkecimpung di dunia media, kemampuan menulis konsep dengan baik akan sangat besar nilainya.”

Rupanya komentar saya ditanggapinya dengan serius, karena beberapa hari kemudian saya menerima email darinya yang berisi sebuah link. Link ini tidak langsung saya buka. Tetapi, ketika saya membukanya, saya jadi terkesima. Ternyata, link itu ke sebuah blog karya anak saya, di mana dia menulis hampir setiap hari tentang kejadian human interest sehari-hari. Tulisannya sangat bagus, dalam, dan sarat refleksi pribadi. Langsung saya komentari dan saya puji dia.

Anak saya telah tumbuh menjadi suatu pribadi yang peduli, sensitif terhadap situasi dan kondisi sekitarnya, serta punya kedalaman batin yang mengagumkan untuk anak seusia dia. Entah mengapa secara tidak langsung hal ini merefleksikan peran saya sebagai ibu, dan membuat saya merasa bahwa saya tidak salah-salah amat dalam membesarkan anak saya. Hal-hal yang tidak dia sampaikan secara lisan pada saya, ternyata bisa diungkapkannya secara tulisan. Dan, hal ini membuat saya sadar bahwa dia telah menjadi seorang dewasa yang baik, dan saya tidak perlu perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya.

Wah, saya bangga dan senang luar biasa.… Ternyata, dia mendengar kata saya, dan dia menemukan bahwa dia punya gairah menulis yang cukup besar. Dia jadi bisa mengekspresikan dirinya secara lebih lengkap di luar media fotografi yang selama ini menjadi sarana ekspresi diri pilihan dan andalannya.

Sirna sudah rasa tidak percaya diri sebagai seorang ibu yang selama ini tidak yakin telah menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Sebagai single parent, saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ayah anak saya mengenai pendidikan dan perkembangan anak saya. Modal saya hanya rasa cinta yang besar dan harapan bahwa anak saya menjadi dirinya yang terbaik.

Dalam perjalanannya sering kali ukuran yang terbaik itu terkontaminasi oleh ide dan agenda pribadi saya tentang bagaimana seharusnya menjadi yang terbaik. Sehingga, tak jarang kami konflik dan saya merasa bersalah karena terlalu memaksakan kehendak saya.

Apa ukuran ibu yang baik? Sebenarnya susah untuk dikatakan. Saya datang dari keluarga yang disfungsional dan tidak memiliki kedekatan batin dengan orang tua dan saudara-saudara saya. Sehingga, boleh dikata saya tidak mempunyai panutan yang menginspirasi saya. Ketika anak saya masih kecil, kadang-kadang saya ringan tangan padanya, sesuatu yang selalu saya sesali belakangan. Karena, saya melakukan sesuatu yang sangat saya tidak suka ketika hal tersebut dilakukan terhadap diri saya.

Ini salah satu alasan, mengapa saya sering bertanya, “Apakah saya sudah menjadi ibu yang baik bagi anak saya, ataukah dosa-dosa saya pada anak saya membuat saya tidak akan pernah menyandang predikat seorang ibu yang baik bagi anaknya?”

Seiring dengan semakin bertumbuhnya diri saya, saya semakin jarang dan akhirnya berhenti ringan tangan terhadap anak saya. Melalui pencaharian saya, akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa saya adalah produk peta emosi orang tua saya. Meskipun pada awalnya saya sempat benci dan menyalahkan orang tua saya, untuk kebiasaan yang seolah-olah tidak bisa saya kontrol itu, namun lambat laun dengan banyak latihan kesadaran, akhirnya saya memahami dan menerima dengan seluruh hati nurani saya bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik yang mereka tahu. Dan, mereka pun adalah produk peta emosi orang tua mereka.

Dan akhirnya, saya juga jadi mengerti bahwa mereka pun melewati masa-masa yang membingungkan tentang bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Dan, saya yang telah mendapat kesempatan untuk bertumbuh dan mencari jati diri, mungkin jauh lebih banyak dari orang tua saya kini mempunyai pilihan untuk memutuskan mata rantai pola yang sudah terprogram dan mengakar selama beberapa generasi.

Jadi, kembali kepada pertanyaan apakah saya ibu yang baik? Ya, secara menyeluruh, dengan melihat apa yang dirasakan dan dialami oleh anak saya, saya lebih sering meniatkan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya. Kadang-kadang saya juga melakukan hal-hal yang mungkin kurang bermanfaat baginya, dan saya berupaya agar semakin lama semakin jarang saya melakukan yang kurang bermanfaat.

Saya terus berusaha memberikan kebebasan bagi anak saya untuk berkembang dan bertumbuh sesuai dengan pilihan hati dan panggilan jiwanya, serta mendukung aspirasi dan cita-citanya sesuai dengan bakat dan kemampuannya serta berusaha untuk tidak memaksakan kehendak dan ambisi pribadi saya. Kadang saya khilaf dan lupa pada tekad saya tadi. Dan, bila hal itu terjadi secepatnya saya meminta maaf padanya. Biasanya tidak pernah lama kami bertikai dan satu hal yang saya tahu pasti adalah bahwa saya cinta sekali pada anak saya. Dia mengatakan bahwa dia juga cinta dan sayang pada saya. Itu sudah cukup buat saya. Selebihnya saya serahkan pada Tuhan, orang tuanya yang sebenarnya.

(http://www.andaluarbiasa.com/apakah-saya-ibu-yang-baik-bagi-anak-saya)

Cara Mendidik Anak Secara Islami

Dalam Al Quran dijelaskan di Surat Lukman ayat 13-19, mengenai konsep Alquran dalam hal mendidik anak secara islami, 7 Ayat Surat Lukman ini tidak mudah untuk dijalankan. Ayat ini menjelaskan :

- Membangun keimanan. Yang paling utama adalah Akidah. Pelajaran tentang larangan menyekutukan Allah. Diawali dengan meng Azankan anak pada saat anak lahir. Lafal Allah didengarkan di telinga anak, dan untuk rasa, diawali dengan memberikan sedikit Kurma dan Madu.

- Mensyukuri nikmat Allah. Walaupun diberi sedikit selalu melafalkan “Alhamdulillah”
- Berbuat baik pada orang tua. Introspeksi diri, apakah kita sudah berbakti pada   orang tua.
- Menyusui anak hingga 2 tahun
- Mengajari kejujuran
- Mengajari anak sholat, karena sholat adalah tiang agama.

Bagaimana agar anak terbiasa menjalankan sholat:
  • Doakan anak (surat Ibrahim 20-21)
  • Membiasakan untuk sholat berjamaah, anak yang sudah besar menjadi imam.
  • Wudhu dan sholat diajarkan sejak umur 7 tahun.
  • Menyempurnakan sholat dengan rawatib. Bukan sekedar sholat saja, tapi diusahakan   juga berdzikir bersama, membaca Alquran bersama keluarga.

- Melatih anak untuk sabar dalam menghadapi musibah. Tugas seorang ibu, membantu   anak bisa sabar. Contoh kecil ; jika anak kehilangan mainan, ajarkan anak untuk   bersabar, dan beri pengertian.
- Mengajari anak agar tidak sombong.
- Mengajarkan anak kesederhanaan dan melunakkan suara pada saat berbicara pada anak.

Bagaimana Rasulullah mendidik Anak?
1. Anak itu merupakan asset masa depan, maka mendidik anak harus secara benar.    Terutama mendidik anak lelaki, karena mereka adalah calon pemimpin. Hadist Ibnu Abbas: “Ajarilah, Mudahkanlah, Gembirakanlah dan Janganlah ditakut-takuti”.
2. Memberikan keteladanan atau contoh yang baik kepada anak.
3. Memilih waktu yang tepat dalam menasehati anak. Misalnya pada saat jalan2 atau pada saat makan malam bersama.
4. Memelihara anak dengan bermusyawarah, jangan memaksa, ajak diskusi.
5. Mendoakan anak
6. Memberikan mainan yang memancing kreatifitas anak.
7. Menolong anak agar berbakti pada orang tua.
8. Tidak banyak mencela/memaki anak. Jangan mengatakan sesuati yang tidak baik pada anak.
9. Banyak berdoa untuk kebaikan anak.
10. Memperhatikan gizi anak, karena berpengaruh penting untuk perkembangan anak.

Tanya Jawab

- Bagaimana melunakkan hati anak?
Berdoa diwaktu yang makbul misalnya; setelah habis sholat fardhu, menjelang buka puasa.
Banyak beristighfar, sholawat dan doa orang tua.
Sebut nama anak dalam do’a2 kita.
Jika anak akan menempuh ujian, doakan” Berilah kemudahan, kelulusan dan sempurnakanlah dengan nilai2 yang bagus”

-Hadist Ibnu Abbas yang menjelaskan untuk tidak menakut-nakuti anak, pada kenyataannya, Bagaimana kalo anak sulit sekali diajak sholat seringkali orang tua menakuti dengan ancaman2 ?

Jika anak sudah baliqh, wajib untuk menjalankan sholat tidak apa2. Tapi akan menjadi baik, jika anak dilatih untuk membiasakan diri melakukan sholat. Dan ibu jangan pernah bosan untuk menasehati anak.

(seputarmuslimah.blogspot.com)

10 Kesalahan Mendidik Anak

CARA MENDIDIK ANAK | TIPS ORANG TUA MENDIDIK ANAK

Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda :

1. Kurang Pengawasan

Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.

2. Gagal Mendengarkan

Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.

3. Jarang Bertemu Muka

Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.

4. Terlalu Berlebihan

Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.

5. Bertengkar Dihadapan Anak

Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

6. Tidak Konsisten

Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.

7. Mengabaikan Kata Hati

Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.

8. Terlalu Banyak Nonton TV

Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi

Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.

10. Bersikap Berat Sebelah

Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

(http://tipsoke.com/cara-mendidik-anak-secara-islami.html)