Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2012

5 Menit saja

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. “Tuh.., itu putraku yang di situ,” katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.

“Wah, bagus sekali bocah itu,” kata bapak di sebelahnya. “Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,” sambungnya, memperkenalkan. Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?” Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?”

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. “Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?” Lagi-lagi Jack memohon, “Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?” pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, iyalah…”

“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu. Pria itu membalas senyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya….”

(Source : Internet)

Jumat, 09 Maret 2012

10 Kiat Menjadi Manusia Anti Gagal (Motivasi Kebal dan Ampuh Dalam Menghadapi Tantangan)

Gagal itu sama sekali tidak menyenangkan. Karena itu, setiap kali gagal, segera bangkit dan cari langkah jitu untuk menjadikan kegagalan itu tidak terulang. Gagal lagi, cari jalan lagi agar kejadian menyakitkan itu tidak terjadi lagi. Masih gagal lagi? Itu berarti kita memang sedang diberi banyak sekali alternatif jalan agar tidak merasa sakit lagi saat gagal kembali mendera. Sebab, sejatinya, setiap kegagalan pasti justru menguatkan. Ibarat obat yang pahit, rasa pahit itulah yang akan memberi efek menyembuhkan.

Tapi, bagaimana bila rasa sakit terus mendera? Pasti, kita pun akan mengalami derita. Itu hal yang sangat manusiawi. Maka, jika ingin meraih kesuksesan sejati, kita harus mampu menjadi manusia yang “kebal” gagal. Sehingga saat jatuh, bisa segera bangun lagi. Saat gagal, bangkit lagi ! Berikut beberapa 10 kiat sederhana yang bisa dilakukan untuk menjadikan kita sebagai manusia yang kebal gagal :
  1. Istirahat sejenak. Jika mengalami hal kurang menyenangkan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah “istirahat” sejenak. Tidur, wisata, rekreasi, atau sekadar jalan-jalan. Bukan untuk menghindari masalah, namun untuk meramu dan mengenali sumber masalah dengan kepala dan hati yang dingin.
  2. Jangan terbawa emosi. Wajar jika kita emosi pada sebuah kejadian yang kurang mengenakkan. Keluarkan emosi itu pada jalur yang tepat. Pisahkan antara rasa jengkel pada kejadian atau jengkel pada diri sendiri. Karena, sebenarnya masalah bukan pada diri kita, tapi pada kejadian yang membuat kita emosi.
  3. Larutkan diri dalam berbagai kesibukan baru yang bisa Anda ciptakan sendiri. Contoh: Bersenang-senang sejenak dengan pergi ke satu lokasi yang menyenangkan, menekuni hobi lama yang sempat hilang karena kesibukan sebelumnya, atau membuat kegiatan dengan rekan atau relasi terdekat. Hal ini, selain membuat emosi lebih stabil, juga bisa membuat kita sedikit terlepas dari beban.
  4. Pikirkan apa hikmah di balik setiap kejadian. Jika sudah tak lagi emosi, pastikan dan camkan dalam hati, bahwa semua kejadian pasti ada hikmah dan tujuan positif di baliknya. Yakini bahwa masih ada banyak pekerjaan dan momen-momen indah yang pasti terjadi di balik semua kejadian.
  5. Coba buka file-file lama tentang peluang apa yang mungkin bisa dimaksimalkan. Dibandingkan hanya duduk merenungi kegagalan, mari mulai membuka buku-buku dan catatan-catatan lama kita, untuk sekadar mengingat atau bahkan mencari berbagai hal yang bisa kita kerjakan. Pasti ada peluang tersembunyi, yang bisa kita olah dan kerjakan.
  6. Coba buka kembali daftar relasi yang mungkin bisa dihubungi. Bisa jadi, dengan melihat daftar nama di telepon genggam atau kartu-kartu nama, kita kemudian terkoneksi dengan peluang baru yang bisa dikerjakan.
  7. Pasang target berikutnya dan susun rencana. Segera pasang target dan susun rencana matang tentang apa yang akan dilakukan. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan, asal itu berwujud sebuah aksi atas rencana dan ide, pasti akan menghasilkan sesuatu. Fokuskan target dan rencana kita dalam hal-hal positif yang mampu membuat kita bersemangat untuk segera mencapainya.
  8. Buat rencana bertingkat. Sebuah rencana pasti bisa gagal. Karena itu, sebelum hal tersebut terjadi, buatlah berbagai rencana cadangan. Jika satu rencana kurang berjalan mulus, kita segera bisa melakukan rencana lain.
  9. Bersiaplah menjadi “orang baru”. Jika kita selalu berpikiran positif serta memiliki rasa nyaman pada apa yang direncanakan dan segera bergerak dengan tindakan yang terukur dan terarah, niscaya kita akan segera bisa bangkit menjadi “orang baru”!
  10. Menyadari adanya kekuatan spiritual. Tuhan tidak akan mengubah nasib bagi mereka yang tidak mau berusaha. Maka, kita wajib selalu berusaha dengan tetap melandasi diri dengan sikap ikhlas. Kesadaran kita akan kekuatan spiritual dan nilai filosofi ini akan jadi kekuatan yang selalu mampu “menyelamatkan” di tengah seburuk apapun badai kehidupan.
(Source : AndrieWongso.com)

Jumat, 03 Februari 2012

Kasih Sayang Seorang Ibu

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.  
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.


(Sumber : Internet)